welcome

Asma'ul Husna

Selasa, 11 Oktober 2011

Ketika Terlalu Banyak Bicara, Kita Lupa untuk Diam


Pada suatu hari saya membaca TL (timeline) seorang aktivis perempuan yang mencaci maki presiden SBY, meskipun saya bukan salah seorang yang memilih pak presiden tapi ada baiknya kita tak mencaci si bapak dengan kalimat-kalimat tak pantas. Lalu seorang teman mencoba menegur aktivis perempuan ini dengan teguran yang halus, namun orang tersebut tidak terima dengan teguran itu malah menuduh temanku adalah antek-antek presiden SBY. Dengan lalu lintas di TL temanku ini aku pun tertarik membaca TL sang aktivis perempuan yang selama ini kukenal dengan kegiatan positifnya dalam membela kaum perempuan.
Ternyata isi Timelinenya lebih banyak menyalahkan dan mengkritik pemerintahan yang korup, dan yang anehnya banyak sekali orang lain yang mengkritik beliau namun beliau membalas dengan kata-kata yang menuduh pengkritik itu antek pemerintah. Apa yang saya dapat dengan kenyataan itu? Saya kehilangan respek terhadap beliau, ia bisa mengkritik pemerintah dan presiden namun ketika ia dikritik ternyata ia tak menerimanya.
Mungkin kita berpikir, ketika kita menjadi presiden kita akan melakukan banyak perubahan, memberantas korupsi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, memakmurkan kehidupan petani, meningkatkan mutu pendidikan dan kesehatan serta banyak lagi teori lain yang akan kita paparkan. Ketika kita menjadi pengurus PSSI, kita juga ingin merombak susunan pemain, mencari pelatih Timnas yang paling baik, menghapus segala macam kemungkinan untuk tindakan korupsi untuk mengharumkan nama bangsa dengan kemenangan TImnas di berbagai kompetisi sepakbola.
Semua orang bisa bicara dan berkata bahwa presiden harus begini dan begitu, sepakbola Indonesia bisa lebih baik lagi jika pemainnya bukan si ini dan si itu. Tapi pernahkah kita semua sampai pada posisi itu? Pernahkah kita berpikir jika kita berada pada posisi orang-orang yang kita salahkan dan kita kritik?
Bicara untuk kebaikan boleh, mengkritik itu pun baik untuk kemajuan, namun jika terlalu banyak bicara tanpa solusi lebih baik kita diam saja.
Janganlah kalian berbanyak kata selain dzikrullah, sesungguhnya hal itu (berbanyak kata) akan menjadikan kerasnya hati. Dan manusia yang paling jauh dari Allah adalah pemilik hati yang keras.
Barangsiapa banyak bicaranya banyak kekeliruannya. Barangsiapa banyak kekeliruannya banyak dosanya. Dan barangsiapa banyak dosanya maka neraka adalah tempat yang pantas baginya.
Hai lisan, katakanlah hal yang baik niscaya engkau beroleh keberuntungan atau diamlah jangan mengatakan hal yang buruk niscaya engkau akan selamat.
“Mulailah sesuatu yang baik, tanpa banyak bicara! Sebab di negeri ini terlalu banyak orang yang hanya bisa bicara, mengkritik, tetapi tak melakukan apapun bahkan untuk sebuah kebaikan yang sederhana”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar