welcome

Asma'ul Husna

Selasa, 18 Oktober 2011

Petunjuk Rasulullah dalam Berqurban

]
Hukum Menyembelih Hewan Qurban
Hewan yang ditetapkan syari’at sebagai hewan qurban adalah unta, sapi, kambing (ada yang menyebutnya dengan kambing Jawa) dan domba dengan berbagai jenisnya. Adapun yang tidak ada keterangannya dalam syari’at maka tidak boleh dijadikan hewan qurban seperti kerbau, kuda, ayam dan hewan yang lainnya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala: “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (Al-Hajj:28). Yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang termasuk jenis unta, lembu (sapi), kambing dan biri-biri (domba).
Juga firman-Nya: “Dan bagi tiap-tiap ummat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepadanya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (Al-Hajj : 34).
Qurban adalah kambing dan hewan lainnya yang ditetapkan syari’at sebagai hewan qurban, yang disembelih setelah melaksanakan shalat ‘Iedul Adh-ha dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, karena Dia Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman: “Katakanlah, Sesungguhnya shalatku, qurbanku (nusuk), hidup dan matiku adalah untuk Allah Rabb semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya.” (Al-An’aam:162).
Nusuk dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. (Minhaajul Muslim hal. 355-356).
‘Ulama berselisih pendapat tentang hukum qurban. (Dan) yang tampak paling rajih (tepat dan kuat) dari dalil-dalil yang beragam adalah hukumnya wajib. Berikut ini akan disebutkan untukmu -wahai saudaraku muslim- beberapa hadits yang dijadikan sebagai dalil oleh mereka yang mewajibkan:
Pertama, dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu ia berkata: bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapa yang memiliki kelapangan (harta) tapi ia tidak menyembelih qurban maka jangan sekali-kali ia mendekati mushalla kami.” (Hadits Hasan, Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Daraquthniy dan Al-Hakim).
Sisi pendalilannya adalah beliau melarang orang yang memiliki kelapangan harta untuk mendekati mushalla jika ia tidak menyembelih qurban. Ini menunjukkan bahwa ia telah meninggalkan kewajiban, seakan-akan tidak ada faedah mendekatkan diri kepada Allah bersamaan dengan meninggalkan kewajiban ini.
Kedua, dari Jundab bin ‘Abdillah Al-Bajaliy, ia berkata: Pada hari raya qurban, aku menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menyembelih sebelum melaksanakan shalat maka hendaklah ia mengulang dengan hewan lain dan siapa yang belum menyembelih qurban maka sembelihlah.” (Muttafaqun ‘alaih).
Perintah secara zhahir menunjukkan wajib dan tidak ada perkara yang memalingkan dari zhahirnya.
Ketiga, Mikhnaf bin Sulaim menyatakan bahwa ia pernah menyaksikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhuthbah pada hari ‘Arafah, beliau bersabda: “Bagi setiap keluarga wajib untuk menyembelih qurban dan ‘atiirah setiap tahun. Tahukah kalian apa itu ‘atiirah? Inilah yang biasa dikatakan orang dengan nama rajabiyyah.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidziy, An-Nasa`iy, Ibnu Majah dan dihasankan oleh At-Tirmidziy serta dikuatkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 10/4).
‘Atiirah adalah sembelihan di bulan Rajab, yang orang-orang jahiliyyah mendekatkan diri kepada Allah dengannya, kemudian datang Islam dan kebiasaan itu dibiarkan, hingga dihapus setelahnya (Lihat Ghariibul Hadiits 1/195).
Perintah dalam hadits ini menunjukkan wajib. Adapun ‘atiirah telah mansukh (dihapus hukumnya) dan penghapusan kewajiban ‘atiirah tidak mengharuskan dihapuskannya kewajiban qurban, bahkan hukumnya tetap sebagaimana asalnya.
Berqurban yuuukk..........!!!!!
Hewan qurban anda akan berkelana  dan bermanfaat hingga pelosok desa
Paket partisipasi:
1. Kambing = 950.000
2. Sapi = 8.500.000
3. Sapi Kolektif = 1.250.000
Semoga Allah SWT senantiasa menambah rizki dan nikmatnya untuk kita semua. Amien
Info : 0341-719915
sms :08990381868

Selasa, 11 Oktober 2011

Ketika Terlalu Banyak Bicara, Kita Lupa untuk Diam


Pada suatu hari saya membaca TL (timeline) seorang aktivis perempuan yang mencaci maki presiden SBY, meskipun saya bukan salah seorang yang memilih pak presiden tapi ada baiknya kita tak mencaci si bapak dengan kalimat-kalimat tak pantas. Lalu seorang teman mencoba menegur aktivis perempuan ini dengan teguran yang halus, namun orang tersebut tidak terima dengan teguran itu malah menuduh temanku adalah antek-antek presiden SBY. Dengan lalu lintas di TL temanku ini aku pun tertarik membaca TL sang aktivis perempuan yang selama ini kukenal dengan kegiatan positifnya dalam membela kaum perempuan.
Ternyata isi Timelinenya lebih banyak menyalahkan dan mengkritik pemerintahan yang korup, dan yang anehnya banyak sekali orang lain yang mengkritik beliau namun beliau membalas dengan kata-kata yang menuduh pengkritik itu antek pemerintah. Apa yang saya dapat dengan kenyataan itu? Saya kehilangan respek terhadap beliau, ia bisa mengkritik pemerintah dan presiden namun ketika ia dikritik ternyata ia tak menerimanya.
Mungkin kita berpikir, ketika kita menjadi presiden kita akan melakukan banyak perubahan, memberantas korupsi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, memakmurkan kehidupan petani, meningkatkan mutu pendidikan dan kesehatan serta banyak lagi teori lain yang akan kita paparkan. Ketika kita menjadi pengurus PSSI, kita juga ingin merombak susunan pemain, mencari pelatih Timnas yang paling baik, menghapus segala macam kemungkinan untuk tindakan korupsi untuk mengharumkan nama bangsa dengan kemenangan TImnas di berbagai kompetisi sepakbola.
Semua orang bisa bicara dan berkata bahwa presiden harus begini dan begitu, sepakbola Indonesia bisa lebih baik lagi jika pemainnya bukan si ini dan si itu. Tapi pernahkah kita semua sampai pada posisi itu? Pernahkah kita berpikir jika kita berada pada posisi orang-orang yang kita salahkan dan kita kritik?
Bicara untuk kebaikan boleh, mengkritik itu pun baik untuk kemajuan, namun jika terlalu banyak bicara tanpa solusi lebih baik kita diam saja.
Janganlah kalian berbanyak kata selain dzikrullah, sesungguhnya hal itu (berbanyak kata) akan menjadikan kerasnya hati. Dan manusia yang paling jauh dari Allah adalah pemilik hati yang keras.
Barangsiapa banyak bicaranya banyak kekeliruannya. Barangsiapa banyak kekeliruannya banyak dosanya. Dan barangsiapa banyak dosanya maka neraka adalah tempat yang pantas baginya.
Hai lisan, katakanlah hal yang baik niscaya engkau beroleh keberuntungan atau diamlah jangan mengatakan hal yang buruk niscaya engkau akan selamat.
“Mulailah sesuatu yang baik, tanpa banyak bicara! Sebab di negeri ini terlalu banyak orang yang hanya bisa bicara, mengkritik, tetapi tak melakukan apapun bahkan untuk sebuah kebaikan yang sederhana”

Senin, 10 Oktober 2011

Manfaat Sedekah

KEMATIAN BISA DIUNDUR

Kematian memang di tangan Allah. Maka ada satu hal yang bisa membuat kematian menjadi sesuatu yang bisa ditunda, yaitu kemauan bersedekah, kemauan berbagi dan peduli.
SUATU hari, Malaikat Kematian mendatangi Nabiyallah Ibrahim, dan bertanya, “Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?”
“Yang anak muda tadi maksudnya?” tanya Ibrahim. “Itu sahabat sekaligus muridku.”
“Ada apa dia datang menemuimu?”
“Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya besok pagi.”
“Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai besok pagi.” Habis berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi meninggalkan Nabiyallah Ibrahim. Hampir saja Nabiyallah Ibrahim tergerak untuk rriemberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam ini, dan memberitahu tentang kematian anak muda itu besok. Tapi langkahnya terhenti. Nabiyallah Ibrahim memilih kematian tetap menjadi rahasia Allah.
Esok paginya, Nabiyallah Ibrahim ternyata melihat dan menyaksikan bahwa anak muda tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahannya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabiyallah Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang umurnya.
Hingga usia anak muda ini 70 tahun, Nabiyallah Ibrahim bertanya kepada Malaikat Kematian, apakah dia berbohong tempo hari sewaktu menyampaikan bahwa anak muda itu umurnya tidak akan sampai besok pagi? Malaikat Kematian menjawab bahwa dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda tersebut, tapi Allah menahannya.
“Apa gerangan yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda tersebut, dulu?”
“Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Allah memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau masih melihatnya hidup.”
Saudara-saudaraku, pembaca “Kajian WisataHati” dimanapun Anda berada, kematian memang di tangan Allah. justru itu, memajukan dan memundurkan kematian adalah hak Allah. Dan Allah memberitahu lewat kalam Rasul-Nya, Muhammad shalla `alaih bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur. jadi, bila disebut bahwa ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu adalah…sedekah.
Maka, tengoklah kanan-kiri Anda, lihat-lihatlah sekeliling Anda. Bila Anda menemukan ada satu-dua kesusahan tergelar. maka sesungguhnya Andalah yang butuh pertolongan. Karena siapa tahu kesusahan itu digelar Allah untuk memperpanjang umur Anda. Tinggal apakah Anda bersedia menolongnya atau tidak. Bila bersedia, maka kemungkinan besar memang Allah akan memanjangkan umur Anda.
Saudara-saudaraku sekalian, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya akan sampai. Dan, tidak seseorangpun yang mengetahui dalam kondisi apa ajalnya tiba. Maka mengeluarkan sedekah bukan saja akan memperpanjang umur, melainkan juga memungkinkan kita meninggal dalam keadaan baik. Bukankah sedekah akan mengundang cintanya Allah? Sedangkan kalau seseorang sudah dicintai oleh Allah, maka tidak ada masalahnya yang tidak diselesaikan, tidak ada keinginannya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampunkan, dan tidak ada nyawa yang dicabut dalam keadaan husnul khatimah.
Mudah-mudahan Allah berkenan memperpanjang umur, sehingga kita semua berkesempatan untuk mengejar ampunan Allah dan mengubah segala kelakuan kita, sambil mempersiapkan kematian datang.
Sampai ketemu di pembahasan berikutnya. Insya Allah, kita masih membahas “sedikit tentang menunda umur, tapi kaitannya dengan kesulitan-kesulitan hidup yang kita hadapi “.
Salam, Yusuf Mansur.
Salam Wisata Hati.
“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan” (An-Nisaa: 78)
Jika anda ingin berbagi apapun itu dan berapapun akan kami terima, bantuan yang kami terima akan langsug kami sampaikan kepada yang membutuhkan. Hub.719915

Ketika Allah menciptakan neraka...

Ketika Allah menciptakan neraka... 


Untuk selamat dari siksa neraka, mungkin adalah suatu yang sangat mustahil bagi kita karena memang  Mayoritas manusia memang tersesat.Dalam Al-Qur’an sendiri sudah menegaskan hal itu.“Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” [Q.S. 6 : 116]
   Selain itu, memang sudah ditetapkan bahwa kita semua, pada dasarnya, menuju neraka. Jarang sekali orang yang memperhatikan hal ini.
 “Dan tidak ada satu orang pun dari pada kalian, kecuali mendatangi neraka itu. Hal itu, bagi Tuhanmu, adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” [Q. S. 19 : 71].
Bahkan bagi sebagian ahli hikmah, dunia ini pun sudah cukup untuk dikatakan sebagai neraka kecil. Tak perlu lagi menunggu neraka yang sebenarnya kelak. Itu membuat mereka minta diselamatkan sejak dari dunia ini.
Ketika Allah menciptakan neraka, Dia berfirman pada Jibril a.s untuk pergi melihat neraka. Lalu Jibril kembali dan berkata, “Demi kemuliaan-Mu, tak akan ada seorang pun yang ingin memasukinya.” Lalu Allah meliputi neraka penuh dengan hal-hal yang disukai nafsu dan syahwat manusia. “Pergi dan lihatlah kembali,” kata Allah. Dan Jibril pergi, lalu kembali dengan berkata, “demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tak ada seorang pun yang akan selamat dari siksa api neraka.” (H.R. Tirmidzi).
Bahkan Jibril a.s. pun menyangsikan ada orang yang bisa selamat dari neraka.
Itulah persoalannya. Umumnya manusia, di bawah sadarnya, meyakini bahwa mereka bisa menjaga dan menyelamatkan diri mereka sendiri dari neraka. Mereka mengira bahwa amal baik, perbuatan baik, bahkan perilaku membela agama, akan otomatis menjadikan mereka sebagai ahli surga. Betapa banyak orang muslim yang mati membawa kebanggaan dalam hati, karena yakin sekali akan selamat dalam menghadap pengadilan Allah ta’ala?
Cermati diri kita. Apakah masih tersisa keyakinan dalam diri kita, bahwa amal ibadah kita akan menyelamatkan kita kelak?
Padahal bukan itu sama sekali yang menyelamatkan manusia. Yang menyelamatkan manusia, mutlak, dan tidak bisa tidak, hanya rahmat Allah ta’ala saja. Hanya kehendak-Nya. Jika ia ‘kebetulan’ berkenan dan berbelas kasihan, maka Ia akan menyelamatkan kita.
“Setidaknya jika bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tak ada seorang pun dari kamu akan bersih, selama-lamanya.” [Q.S. 24 : 21]
“Sesungguhnya jiwa (manusia) itu menyuruh pada kejelekan, kecuali jiwa yang dirahmati Tuhanku.” (Q. S. 12 : 53)
Padahal untuk sekedar beriman pun, adalah kehendak-Nya. Bukan kehendak kita, atau kehendak orang tua.
“Dan tak seorang pun bisa beriman kecuali atas izin Allah.” [Q.S. 10 : 100]
Karena itu, kita dilarang memaksa orang untuk menjadi ‘beriman’, atas paksaan maupun desakan. Kalau memang Dia menghendaki itu, itu sangat mudah bagi-Nya. Tapi memang itu belum tentu menjadi kehendak-Nya.
“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua orang di muka bumi, seluruhnya. Apa kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman seluruhnya?” [Q. S. 10 : 99]
Itulah intinya. Yang harus tumbuh dari kita adalah sebuah pengharapan akan rahmat Allah ta’ala, tanpa pernah berhenti sekejap pun. Hati kita total menghadap kepada-Nya, memohon kasih sayang-Nya. Kita benar-benar bergantung dan berharap pada-Nya saja, bukan pada ibadah atau amal perbuatan.
Amal baik, perbuatan ibadah, pada dasarnya tidak akan menyelamatkan sama sekali. Ibadah dan amal statusnya hanyalah sebuah ungkapan pengharapan akan rahmat-Nya. Itu adalah ungkapan pengharapan dalam bentuk yang diperintahkan atau diwajibkan, sebuah bentuk pengharapan minimal yang harus dilakukan. Katakanlah, itu baru sebuah syarat untuk masuk gerbang istana Raja. Tapi bukan itu saja yang membuat Raja berkenan memberi. Dia harus juga mencintai kita.
“Tidak ada cara ber-taqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku sukai selain melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Aku fardhu-kan kepadanya. Namun hamba-Ku itu terus berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan (sunnah) nawafil, sehingga Aku pun mencintainya.
Apabila ia telah Aku cintai, Aku menjadi pendengarannya yang dengan Aku ia mendengar, (Aku menjadi) pengelihatannya yang dengan Aku ia melihat, (Aku menjadi) tangannya yang dengan Aku ia keras memukul, dan (Aku menjadi) kakinya yang dengan Aku ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, sungguh, akan Aku beri dia, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku benar-benar akan melindunginya.”

Senin, 26 September 2011

Kekuatan Manusia dihadapan sang Pencipta


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir